BAB III
PEMBAHASAN

Dalam bab ini, penulis akan membahas asuhan keperawatan pada Ny. N Post Op Seksio Sesarea Hari Ketiga dengan Indikasi Presbo di Ruang Nusa Indah RSUD dr. Soeselo Slawi, pembahasan meliputi : Pengkajian, Analisa Data, Diagnosa Keperawatan, Intervensi Keperawatan, Implementasi Keperawatan dan Evaluasi Keperawatan.
Pengkajian merupakan langkah pertama dari proses keperawatan dengan mengumpulkan data-data yang akurat dari pasien sehingga akan diketahui berbagai permasalahan yang ada. Untuk melakukan langkah pertama ini diperlukan pengetahuan dan kemampuan yang harus dimiliki oleh perawat diantaranya pengetahuan tentang kebutuhan atau sistem biopsikososial dan spiritual bagi manusia yang memandang manusia dari aspek biologis, psikologis, social, dan tinjauan dari aspek spiritual, juga pengetahuan akan kebutuhan perkembangan manusia (tumbuh kembang dari kebutuhan dasarnya), pengetahuan tentang konsep sehat dan sakit, pengetahuan tentang patofisiologi dari penyakit yang dialami, pengetahuan tentang sistem keluarga dan kultur budaya serta nilai-nilai keyakinan yang dimiliki klien (A. Aziz Alimul Hidayat, 2008: 98).
Analisa Data, Diagnosa Keperawatan, Intervensi, Implementasi dan Evaluasi Keperawatan merupakan langkah penulis selanjutnya. Diagnosis keperawatan adalah keputusan klinis tentang respon individu, keluarga atau komunitas terhadap masalah kesehatan yang aktual dan potensial, atau proses kehidupan.
Ini merupakan pernyataan yang menggambarkan respon aktual dan potensial klien terhadap masalah kesehatan yang boleh dan mampu ditangani oleh perawat.
Intervensi adalah salah satu kategori perilaku keperawatan, pada tahap ini perawat menetapkan tujuan dan hasil yang diharapkan bagi pasien dan merencanakan intervensi keperawatan.
Impelementasi adalah tahap keempat dari proses keperawatan dimana rencana perawatan dilaksanakan ; melaksanakan intervensi atau aktivitas yang telah ditentukan (Potter Perry, 2009: Hal 410, 432,460).
Evaluasi adalah langkah akhir dari proses keperawatan tugas selama tahap ini termasuk pencatatan pernyataan evaluasi dan revisi rencana tindakan keperawatan dan intervensi jika perlu(Nursalam, 2001: 119).
Dalam hal ini penulis juga membahas tentang diagnosa keperawatan, mengapa diagnosa tersebut ditegakkan, bagaimana memprioritaskan diagnosa tersebut, intervensi beserta rasionalnya, dari rencana tindakan serta evaluasi dari masalah keperawatan yang muncul.
Pengkajian yang sudah didapat berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan penulis dan keluhan pasien yang ditemukan pada pengakajian yang dilakukan pada tanggal 13 Desember 2012 didapatkan data Ny.N, umur 25 tahun, jenis kelamin perempuan, status menikah, agama Islam, suku bangsa Jawa, pendidikan MTs (Madrasah Tsanawiyah), alamat Cenggini dan nomer registrasi masuk 182345. Didapatkan data antara lain : data subyektif yang meliputi klien mengatakan nyeri P : saat bergerak, Q: nyeri seperti ditusuk-tusuk, R: nyeri pada bekas operasi di daerah perut, S : skala nyeri 4, T : 30 menit sekali dan klien tidak tahu cara merawat luka bekas operasi. Data obyektif meliputi ekspresi klien menyeringai dan mengeluh kesakitan, terdapat luka jahit bekas operasi sejumlah 8 jahitan sepanjang 12cm, ada nyeri tekan, pernapasan 24 kali permenit klien sering bertanya pada perawat, klien nampak bingung, Hemoglobin Low 10.0 g/dl, Limfosit Low 16.30 %, Leukosit Hight 10.200/ul, Suhu tubuh : 37,6°C, terdapat luka jahit bekas operasi sejumlah 8 jahitan sepanjang 12 cm, luka kemerahan.
Pembahasan ini terjadi dari masing-masing diagnosa keperawatan dengan tetap mempertimbangkan prinsip-prinsip dalam proses keperawatan. Adapun  tiga diagnosa yang muncul adalah sebagai berikut :
1.    Nyeri akut
Menurut Nanda tahun 2006dan Judith M. Wilkinson, 2006nyeri adalah pengalaman emosional dan sensori, yang tidak menyenangkan yang muncul dari kerusakan jaringan secara aktual dan potensial atau menunjukan adanya kerusakan(Associaton for the Study of Pain): serangan mendadak atau perlahan dari intensitas ringan sampai berat yang dapat diantisipasi atau diprediksi durasi nyeri kurang dari 6 bulan. Dengan batasan karakteristik data subyektif melaporkan nyeri secara verbal, karakteristik dari data obyektif yaitu menunjukkan kerusakan, posisi untuk mengurangi nyeri, gerakan untuk melindungi tingkah laku berhati-hati, wajah topeng (nyeri), gangguan tidur (mata sayu, tampak capek, sulit atau gerakan kacau, menyeringai), fokus pada diri sendiri, fokus menyempit (penurunan persepsi waktu, kerusakan proses berfikir, penurunan interaksi dengan orang dan lingkungan), tingkah laku distraksi (jalan-jalan, menemui orang lain, aktivitas berulang), respon otonom (diaporesis, perubahan tekanan darah, perubahan napas, perubahan nadi, dilatasi pupil), perubahan otonom dalam tonus otos (dalam rentang lemah ke kaku), tingkah laku ekspresif (gelisah, merintih, menangis, waspada, iritabel, nafas panjang, mengeluh) dan perubahan dalam nafsu makan.
Diagnosa ini penulis tegakkan berdasarkan data yang penulis dapatkan dari hasil pengkajian tanggal 13 Desember 2011 yaitudata subjektif  klien mengatakan nyeri, P : saat bergerak, Q: nyeri seperti ditusuk-tusuk, R: nyeri pada bekas operasi di daerah perut, S : skala nyeri 4, T : 30 menit sekali. Data objektif meliputi ekspresi klien menyeringai dan mengeluh kesakitan, terdapat luka jahit bekas operasi sejumlah 8 jahitan sepanjang 12Cm, ada nyeri tekan, pernapasan 24 kali permenit.
Berdasarkan Maslow prioritas diagnosis yang diatasi pertama kali adalah kebutuhanfisiologis,sedangkan nyeri merupakan bagian dari  kebutuhanfisiologis. Penulis memprioritaskan masalah nyeri berhubungan dengan prosedur pembedahan sebagai diagnosa yang utama karena dilihat dari kebutuhan klien yaitu kebutuhan fisiologis menurut konsep Hierarki Maslow. Kebutuhan fisologis terletak didasar piramida, teori Maslow mengatakan bahwa kebutuhan tingkat dasar ini harus dipenuhi terlebih dahulu sebelum beralih ke kebutuhan yang lebih tinggi (seperti harga diri) (A. Aziz Alimul Hidayat, 2008: 119).
Dalam mengatasi masalah tersebut penulis menetapkan beberapa rencanakeperawatan, tujuan serta kriteria hasil. Penulis menetapkantujuan yang ingin dicapai setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 kali 24 jam diharapkan nyeri berkurang dengan skala nyeri 0, ekspresi tenang, tidak nyeri tekan.
Berikut ini adalah beberapa rencana keperawatan yang ditentukan penulis untuk diagnosa nyeri:
a.    Kaji nyeri secara komprehensif
Rasionalnya : Klien mungkin tidak secara verbal melaporkan nyeri dan ketidaknyamanan secara langsung. Membedakan karakteristik khusus dari nyeri membantu membedakan nyeri pasca operasi dan terjadinya komplikasi.
b.    Kaji tanda- tanda vital
Rasionalnya : Pada banyak klien, nyeri dapat menyebabkan gelisah serta tekanan darah dan nadi meningkat. Kehilangan darah berlebihan dan hemoragi selama persalinan dan periode intraoperatif dapat menurunkan curah jantung dan meningkatkan vasokontriksi dengan pirau darah pada organ utama.Penurunan curah jantung dan syok dimanifestasikan oleh penurunan tekanan darah, peningkatan nadi atau lemah dan kulit dingin atau lembab.
c.    Ajarkan teknik relaksasi non farmakologi distraksi dan relaksasi (tarik nafas dalam)
Rasionalnya : Napas dalam meningkatkan upaya pernapasan. Menurunkan regangan dan ketegangan area insisi dan mengurangi nyeri dan ketidaknyamanan berkenaan dengan gerakan otot abdomen.

d.   Berikan lingkungan yang nyaman
Rasionalnya : Meningkatkan kenyamanan dan menurunkan distraksi tidak menyenangkan dan meningkatkan rasa sejahtera.
e.    Kolaborasi pemberian analgetik
Rasionalnya:Meningkatkan kenyamanan yang memperbaiki status psikologis dan meningkatkan mobilitas.Meningkatkan kenyamanan dengan memblok implus nyeri, mempunyai potensial kerja agen anestetik(Marilynn E. Dongoes, 2000: 414).
Adapun implementasi yang dapat penulis lakukan didiagnosa ini adalah :
1.    Mengganti linen klien
Dalam melakukan tindakan ini penulis tidak mengalami hambatan karena pasien kooperatif dan klien merasa nyaman setelah penulis mengganti linennya. Tindakan ini penulis lakukan pada jam 08.00 WIB.
2.    Mengukur tanda-tanda vital
Tindakan ini penulis lakukan untuk menemukan apakah ada atau tidak adanya peningkatan rasa nyeri pada klien. Setelah dilakukan tindakan keperawatan ini ditemukan data : Tekanan Darah : 110 per 70 milimeter air raksa, Nadi : 88 kali permenit, Suhu tubuh : 37 Derajat Celcius, Pernafasan : 24 kali permenit. Dalam melakukan tindakan ini penulis tidak menemukan kendala apapun karena klien kooperatif.
3.    Mengkaji nyeri secara komprehensif
Dalam melakukan tindakan ini penulis mengalami kendala yaitu pasien selalu mengeluh kepada perawat akan rasa sakitnya sehingga penulis harus benar-benar memiliki kejelian dalam melakukan tindakan ini. Tetapi kendala tersebut dapat diatasi penulis dengan mengkaji secara lebih mendalam tentang nyeri yang dirasakan pasien seperti melihat ekspresi wajah pasien ketika dilakukan perawatan luka dan pada waktu pasien melakukan mobilisasi. Data yang ditemukan adalah klien mengatakan masih nyeri dengan skala nyeri 3, nyeri masih  timbul saat bergerak,ekspresi menyeringai. Tindakan ini dilakukan pada jam 08.30 WIB.
4.    Mengganti balutan klien
Dalam melakukan tindakan ini penulis tidak menemukan kendala karena klien mau diganti balutannya, hanya saja merasa sakit ketika penulis menekan luka agar mengetahui masih ada pus atautidak, setelah dilakukan tindakan ini klien mengatakan masih nyeri pada daerah sekitar luka.Penulis menemukan data luka sudah kering dan tidak terdapat pus. Tindakan ini dilakukan pada jam 08.30 WIB.
5.    Menginspeksi balutan abdominal terhadap eksudat atau rembesan
Dalam melakukan tindakan ini penulis tidak menemukan kendalan apapun karena klien kooperatif dan penulis menemukan data luka sudah kering serta tidak terdapat pus lagi. Tindakan ini penulis lakukan pada jam 08.30 WIB.
6.    Mengajarkan teknik relaksasi nonfarmakologi distraksi dan relaksasi (tarik nafas dalam).
Dalam melakukan tindakan ini penulis tidak mengalami hambatan karena pasien kooperatif dan mampu untuk melakukan tekhnik nafas dalam untuk mengontrol nyeri. Tindakan ini penulis lakukan pada jam 09.00 WIB.
7.    Memberikan obat asammefenamat 500gram per oral
Obat ini diberikan sesuai advis Dokter untuk mengurangi rasa nyeri dan ketidaknyamanan pada klien.Dalam melakukan tindakan ini penulis tidak menemukan kendala karena klien kooperatif dan minum obat secara teratur.Klien juga tidak mempunyai allergi terhadap obat. Tindakan ini penulis lakukan pada jam 09.30 WIB.
Evaluasi pada diagnosa keperawatan nyeri berhubungan dengan agen cidera fisik (prosedur pembedahan) yang dilakukan pada tanggal 13 Desember 2011 penulis menemukan data subyektif klien mengatakan masih nyeri, P : saat bergerak, Q : nyeri seperti ditusuk-tusuk, R : nyeri pada bekas operasi di daerah perut, S : skala nyeri 3 dan T : 25 menit sekali, dengan data obyektif, ekspresi menyeringai, nyeri masih timbul saat bergerak. Analisa masalah nyeri belum teratasi, planning melanjutkan intervensi yang telah dibuat dalam rencana tindakan keperawatan selanjutnya.
2.    Kurang pengetahuan (spesifik)
Kurang pengetahuan (spesifik) yaitu kondisi ketika individu atau kelompok tidak memiliki cukup pengetahuan kognitif atau keterampilan psikomotor terkait kondisi atau rencana tindakan tertentu(Lyinda Juall Carpenito,2009: 652).
Dengan batasan karakteristik data subyektif mengungkapkan masalahnya secara verbal,karakteristik dari data obyektif yaitu tidak mengikuti instruksi yang diberikan secara akurat, tidak mengikuti ujian secara akurat, tidak tepat atau berlebihannya perilaku (sebagai contoh histeris, bermusuhan, agatis dan apatis)(Judith M. Wilkinson, 2006: 270).
Dalam menegakkan diagnosa ini penulis mendapatkan data sebagai berikut untukdapatmenarik diagnosa yaitudata subjektif klien  mengatakan tidak tahu cara merawat luka bekas operasi. Dengan data obyektif yang didapat adalah klien sering bertanya pada perawat, klien nampak bingung.
Diagnosaini penulis tegakkan karenauntuk meningkatkan keselamatan dan keamanan klien hal ini sesuai prioritas diagnosis yang akan direncanakan berdasarkan kebutuhan menurut Hierarki Maslow(A.Aziz Alimul Hidayat, 2008:  119).
Dalam mengatasi masalah tersebut penulis menetapkan beberapa rencana keperawatan, tujuan serta kriteria hasil. Penulis menetapkan Tujuan yang ingin dicapai setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 kali 24 jam diharapkan klien tahu tentang cara merawat luka post Seksio Sesarea, klien tidak bingung lagi dan klien lebih kooperatif
Oleh karena itu penulis merencanakan tindakan keperawatan sebagai berikut :
a.    Berikan informasi secara adekuat
Rasionalnya : Membantu klien mengenali perubahan normal dari respons-respons abnormal yang mungkin memerlukan tindakan. Status emosional klien mungkin kadang-kadang labil pada waktu ini dan sering dipengaruhi oleh kesejahteraan fisik.Antisipasi perubahan ini dapat menurunkan stres berkenaan dengan transisi periode ini yang memerlukan pembelajaran peran baru dan pelaksanaan tanggung jawab baru.
b.    Berikan waktu untuk klien dan keluarga untuk bertanya ketika tidak tahu cara bagaimana merawat luka
Rasionalnya : Memberikan kesempatan untuk mengevaluasi pemahaman klien atau pasangan dan keluarga terhadap situasi yang dihadapi.
c.    Berikan pendidikan kesehatan tentang cara perawatan luka post Op Seksio Sesarea
Rasionalnya : Informasi memungkinkan klien mengantisipasi kejadian dan memahami alasan intervensi atau tindakan.
d.   Anjurkan keluarga menemani klien
Raionalnya : Memberikan dukungan bagi ibu, meningkatkan kedekatan orang tua dan memberikan pada pengingatan klien akan pengalaman kelahiran.
e.    Berikan lingkungan yang nyaman
Rasionalnya : Memungkinkan kesempatan bagi klien atau pasangan untuk menginternalisasi informasi, menyusun sumber-sumber dan mengatasi dengan efektif(Marilynn E. Dongoes, 2000: Hal 82).
Untuk point selanjutnya, penulis akan membahas tentang implementasi yang dilakukan penulis untuk mencapai tujuan, yang diharapkan untuk mengatasi masalah ini, adapun implementasi yang telah dilakukan penulis adalah

1.    Mengganti linen klien
Dalam melakukan tindakan ini penulis tidak mengalami hambatan karena pasien kooperatif dan klien merasa nyaman setelah penulis mengganti linennya. Tindakan ini penulis lakukan pada jam 08.00 WIB.
2.    Mengukur tanda-tanda vital
Tindakan ini penulis lakukan untuk menemukan apakah ada atau tidak adanya peningkatan rasa nyeri pada klien. Setelah dilakukan tindakan keperawatan ini ditemukan data : Tekanan Darah : 110 per 70 milimeter air raksa, Nadi : 88 kali permenit, Suhu tubuh : 37 derajat celcius, Pernafasan : 24 kali permenit. Dalam melakukan tindakan ini penulis tidak menemukan kendala apapun karena klien kooperatif.
3.    Mengganti balutan klien
Dalam melakukan tindakan ini penulis tidak menemukan kendala karena klienmau diganti balutannya, hanya saja merasa sakit ketika penulis menekanluka agar mengetahui masih ada pus atautidak, setelah dilakukan tindakan ini klien mengatakan masih nyeri pada daerah sekitar luka.Penulis menemukan data luka sudah kering dan tidak terdapat pus. Tindakan ini dilakukan pada jam 08.30 WIB.
4.    Menganjurkan keluarga menemani klien
Dalam melakukan tindakan ini penulis tidak menemukan kendala apapun, keluarga sangat antusias untuk menemani klien. Tindakan ini penulis lakukan pada jam 09.45 WIB.
5.    Memberikan waktu pada klien dan keluarga untuk bertanya ketika tidak tahu cara bagaimana merawat luka.
Dalam melakukan tindakan ini penulis tidak menemukan kendala apapun karena klien dan keluarga mau bertanya bagaimana cara merawat luka yang benar. Tindakan ini penulis lakukan pada jam 10.00WIB.
6.    Memberikan pendidikan kesehatan tentang cara perawatan luka post op seksio sesareadiantaranya  menjelaskan pengertian, menjelaskan tujuan dari perawatan luka, menjelaskan tanda-tanda infeksi, menjelaskan peralatan yang dibutuhkan dan menjelaskan cara menggganti balutan. Menanyakan kepada klien apakah sudah tahu bagaimana cara merawat luka post opseksio sesarea setelah pendidikan kesehatan.
Dalam melakukan tindakan ini penulis tidak menemukan kendala apapun karena klien dan keluarga mau memperhatikan dan antusias terhadap pendidikan kesehatan yang diberikan.Penulis melakukan pendidikan kesehatan ini pada jam 10.00 WIB.
7.    Menanyakan kepada klien apakah sudah tahu bagaimana cara merawat luka sesar setelah pendidikan kesehatan.
Dalam melakukan tindakan keperawatan ini penulis tidak menemukan kendala apapun karena setelah pendidikan kesehatan yang diberikan klien dan keluarga menjadi tahu bagaimana cara merawat luka post op seksio sesarea yang benar. Tindakan ini penulis lakukan pada jam 10.20 WIB.
Evaluasi pada diagnosa kurang pengetahuan (spesifik) berhubungan dengan keterbatasan kognisi dapat teratasi sesuai kriteria hasil yang telah ditentukan penulis. Dari data subyektif klien mengatakan  sudah tahu tentang cara merawat luka, dengan data obyektif klien kooperatif, klien tidak bingung lagi. Analisa : masalah kurang pengetahuan teratasi.Planning :pertahankan intervensi sesuai yang telah direncanakan. Dalam analisa penulis mengatakan masalah teratasi karena berdasarkan tujuan yang penulis harapkan pada pasien terpenuhi. Dalam melakukan evaluasi ini penulis tidak menemui kendala dan kesulitan yang berarti karena adanya kerjasama yang baik dari semua pihak.
3.    Resiko Infeksi
Resiko infeksi adalah suatu kondisi individu yang mengalami peningkatan resiko terserang organisme patogenik(Judith M. Wilkinson, 2006: 261).
Resiko infeksi suatu kondisi dimana ketika individu beresiko terkena agen oportunistik atau agen patogenesis (virus, jamur, bakteri, atau parasit lain) dari berbagai sumber dari dalam atau luar tubuh (Lynda Juall Carpenito, 2009: 590).
Faktor resiko dari resiko infeksi meliputi prosedur invasif, tidak cukup pengetahuan dalam menghindari paparan pathogen, trauma, destruksi jaringan dan peningkatan paparan lingkungan, ruptur membrane amniotik, agen parmasetikal (misal imunosupresan), malnutrisi, peningkatan paparan lingkungan terhadap pathogen, imunosupresi, imunitas didapat tidak adekuat, pertahanan sekunder tak adekuat (Hb menurun, leukopenia, penekanan respon inflamasi), pertahanan primer tidak adekuat (kulit tak utuh, trauma jaringan, penurunan gerak silia, cairan tubuh statis, perubahan sekresi pH, perubahan peristaltik) dan penyakit kronis.
Pengkajian pada tanggal 13 Desember 2011 didapatkan data yang menunjang untuk menegakkan diagnosa ini yaitu data obyektif yang meliputi Hemoglobin Low 10.0 g/dl, Limfosit Low 16.30 %, Leukosit Hight 10.200/ul, Suhu tubuh : 37,6°C, terdapat luka jahit bekas operasi sejumlah 8 jahitan sepanjang 12Cm, luka kemerahan.
Dalam mengatasi masalah tersebut penulis menetapkan beberapa rencana keperawatan, tujuan serta kriteria hasil. Penulis menetapkan Tujuan yang ingin dicapai setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 kali 24 jam diharapkan klien tidak mengalami infeksi dengan kriteria hasil tidak terjadi tanda-tanda infeksi seperti kalor, rubor, dolor, tumor dan penurunan fungsio laesa, tanda-tanda vital dalam batas normal : tekanan darah 100 per 60 sampai 140 per 90 milimeter Air raksa, denyut nadi 80 sampai 100 kali permenit, suhu tubuh 36 sampai 37,5 derajat celcius, pernapasan 16 sampai 20 kali permenit, nilai laboratorium normal : Hemoglobin 11.7 sampai 15.5 g/dl, Limfosit 25 sampai 40 %, Leukosit 5000 sampai 10.000/ul .
Diagnosa ini penulis tegakkan karena untuk untuk meningkatkan keselamatan dan keamanan klien hal ini sesuai prioritas diagnosis yang akan direncanakan berdasarkan kebutuhan menurut Hierarki Maslow(A.Aziz Alimul Hidayat, 2008:  119).
Oleh karena itu penulis merencanakan tindakan keperawatan sebagai berikut :
a.    Kaji tanda-tanda vital
Rasionalnya : Demam setelah pasca operasi hari ketiga, leukosit dan takikardi dapat menunjukkan infeksi.
Peningkatan suhu 38,3 derajat celcius dalam 24 jam pertama sangat mengidentifikasi nyeri; peningkatan sampai 38 derajat celcius pada hari kedua dan dalam 10 hari pascapartum adalah bermakna.
b.    Kaji adanya tanda-tanda infeksi
Rasionalnya : Pecah ketuban terjadi 24 jam sebelum pembedahan dapat mengakibatkan korioamnionitis sebelum mengubah intervensi bedah dan dapat mengubah penyembuhan luka.
c.    Lakukan perawatan luka dengan teknik antiseptik
Rasionalnya : Lingkungan lembab merupakan media paling baik untuk pertumbuhan bakteri, bakteri dapat berpindah melalui aliran kapiler melalui balutan basah ke luka. (Catatan :Insisi pada segmen uterus bawah sembuh lebih cepat dari pada insisi klasik dan kecil kemungkinan untuk ruptur pada kehamilan selanjutnya).

d.   Inspkesi balutan abdominal terhadap eksudat atau rembesan
Rasionalnya : Balutan steril menutupi luka pada 24 jam pertama kelahiran sesaria membantu melindungi luka dari cedera atau kontaminasi. Rembesan dapat menandakan hematoma, gangguan penyatuan jahitan atau dehisens luka, memerlukan intervensi lanjutan.Pengangkatan balutan memungkinkan insisi mengering dan meningkatkan penyembuhan luka.
e.    Pantau hasil laboratorium
Rasionalnya :Anemia, Diabetes dan persalinan yang lama (khususnya pada pecah ketuban), sebelum kelahiran sesaria meningkatkan resiko infeksi dan perlambatan penyembuhan(Marilynn E. Dongoes, 2000:414).
Untuk point selanjutnya, penulis akan membahas tentang implementasi yangdilakukan penulis untuk mencapai tujuan, yang diharapkan untuk mengatasi masalah ini, adapun implementasi yang telah dilakukan penulis adalah
1.    Mengganti linen klien
Dalam melakukan tindakan ini penulis tidak mengalami hambatan karena pasien kooperatif dan klien merasa nyaman setelah penulis mengganti linennya. Tindakan ini penulis lakukan pada jam 08.00 WIB.
2.    Mengukur tanda-tanda vital
Tindakan ini penulis lakukan untuk menemukan apakah ada atau tidak adanya peningkatan rasa nyeri pada klien. Setelah dilakukan tindakan keperawatan ini ditemukan data : Tekanan Darah : 110 per 70 milimeter air raksa, Nadi : 88 kali permenit, Suhu tubuh : 37 Derajat Celcius, Pernafasan : 24 kali permenit. Dalam melakukan tindakan ini penulis tidak menemukan kendala apapun karena klien kooperatif.
3.    Menginspeksi balutan abdominal terhadap eksudat atau rembesan
Dalam melakukan tindakan ini penulis tidak menemukan kendalan apapun karena klien kooperatif dan penulis menemukan data luka sudah kering serta tidak terdapat pus lagi. Tindakan ini penulis lakukan pada jam 09.00 WIB.
4.    Menanyakan kepada klien apakah sudah tahu bagaimana cara merawat luka sesar setelah pendidikan kesehatan.
Dalam melakukan tindakan keperawatan ini penulis tidak menemukan kendala apapun karena setelah pendidikan kesehatan yang diberikan klien dan keluarga menjadi tahu bagaimana cara merawat luka post op seksio sesarea yang benar. Tindakan ini penulis lakukan pada jam 10.20 WIB.
Evaluasi pada diagnosa resiko  infeksi berhubungan dengan prosedur invasif dapat teratasi sesuai kriteria hasil yang telah ditentukan penulis. Dari data subyektif klien mengatakan masih nyeri tapi dengan data obyektif yang ditemukan yaitu tekanan darah : 110 per 70 mili meter air raksa, nadi : 88 kali permenit, suhu : 37 derajat celcius, pernafasan : 24 kali permenit, luka kering, tidak ada pus. Analisa : masalah resiko infeksi teratasi.Planning :pertahankan intervensi sesuai yang telah direncanakan. Dalam analisa penulis mengatakan masalah teratasi karena berdasarkan tujuan yang penulis harapkan pada pasien terpenuhi. Dalam melakukan evaluasi ini penulis tidak menemui kendala dan kesulitan yang berarti karena adanya kerjasama yang baik dari semua pihak.
Berdasarkan pengelolaan kasus selama 3 kali 24 jam penulis memunculkan 3 diagnosa keperawatan yaitu nyeri berhubungan dengan agen cidera fisik (prosedur pembedahan), kurang pengetahuan (spesifik) berhubungan dengan keterbatasan kognisi dan resiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif. Sedangkan pada teori terdapat diagnosa keperawatan : ansietas, harga diri rendah situasional, konstipasi dan kurang perawatan diri.
1.    Ansietas tidak dimunculkan karena  tidak ada tanda-tanda krisis situasi. Secara teori diagnosa tersebut dimunculkan apabila terdapat batasan karakteristik peningkatan ketegangan, keprihatinan, perasaan tidak adekuat, stimulasi simpatik tidak dapat tidur dan sementara itu pada saat pengkajian penulis tidak menemukan data yang sama pada batasan karakteristik tersebut.
2.    Harga diri rendah situasional tidak dimunculkan karena tidak ada data yang ditemukan oleh penulis sesuai dengan batasan karakteristik yaitu mengungkapkan tantangan situasional yang sedang terjadi terhadap harga diri, mengungkapkan diri yang negatif, bimbang perilaku nonsertif, mengevaluasi diri tidak mampu mengatasi situasi dan mengekspresikam tidak berdaya dan tidak berguna. Saat dilakukan pengkajian pada Ny.N penulis tidak menemukan data yang sesuai dengan batasan karakteristik tersebut.
3.    Konstipasi
Secara teori diagnosa konstipasi dapat dimunculkan apabila terdapat batasan karakteristik, perubahan pola BAB, darah merah terang dalam feces, distensi abdomen, feses lembut seperti pasta rektum, feses gelap hitam seperti teh, peningkatan tekanan abdomen, nyeri saat defekasi, penurunan volume feces, tegang saat defekasi. Saat dilakukan pengkajian pada Ny. N penulis tidak menemukan data yang sesuai dengan batasan karakteristik tersebut.
4.    Kurang perawatan diri

Secara teori diagnosa ini dimunculkan apabila terdapat batasan karakteristik tidak mampu dalam memakai atau melepas pakaian yang perlu, berpakaian cepat, menyediakan atau menyetok baju, memakai pakaian atas dan  bawah, memilih pakaian, menggunakan alat bantu, mengancingkan baju, mengganti baju dan mempertahankan penampilan dalam tingkat memuaskan. Saat dilakukan pengkajian pada Ny. N penulis tidak menemukan data yang sesuai dengan batasan karakteristik tersebut, sehingga diagnosa ini tidak dimunculkan oleh penulis (Mitayani, 2009 : 111).

0 komentar:

Poskan Komentar